Aku gelisah. Soal latihan UAN Kimia SMA di hadapanku tidak bisa kukerjakan. Bosan. Sudah 3 jam aku berkutat di tempat yang sama. Padahal teman di sekelilingku sudah datang silih berganti. Untung Kakak baik. Aku boleh di tempat les sampai aku mengerti.
Bosan. Aku mengedarkan pandangan.
Klek. Ada yang baru masuk ruangan. Mendadak aku menegakkan tubuhku di kursi. Ia yang baru datang, menyita perhatianku. Ia memberikan senyuman pada Kakak, dan ya ampun! Dia memilih untuk duduk di depanku! Sial, jantungku jadi berdebar. Padahal aku yakin, hanya kacamatanya yang membuatnya lebih terlihat pintar, dan... berkharisma? Ah tak peduli. Satu hal, aku jadi tidak konsentrasi.
Ia menaruh bukunya asal di depanku. BUKU LATIHAN SOAL UAN, bacaku dalam hati. Sama! Biarpun agak tertutup buku lainnya, aku masih bisa membaca dengan jelas bahwa ia juga akan menghadapi UAN. Aku menduga-duga di mana ia bersekolah. Kulirik sebentar wajahnya.
Ganteng! Dan pipiku memanas. Ya Tuhan, ada apa ini?
Kualihkan perhatianku dengan mengaduk-aduk isi kotak pensil. Sial, jadi salah tingkah. Tidak tahan, kulirik lagi wajah di depanku. Ia mengerjakan soal dengan tenang. Wajahnya menghanyutkan.
Ups! Ia mendongakkan wajahnya, menatapku. Berakting, berakting, berakting. Aku mengedarkan pandanganku pada sisi lain ruangan perlahan, sementara jantungku bekerja lebih cepat dari yang kuduga. Matanya! Ya, tadi aku menatap matanya yang tenang! Apa ini jatuh cinta pada pandangan pertama?
Lebih baik kuselesaikan soal-soal di hadapanku ini, lalu pulang untuk menenangkan diri. Aku yakin, besok ia akan datang lagi.
Hampir 2 jam setelahnya...
Selesai. Sedetik sebelum aku berdiri untuk membereskan, sosok di depanku berdiri lebih dulu dan mebereskan barang miliknya. Entah kenapa aku mendadak panik, seperti takut ia pulang lebih dulu dan aku tidak lagi bisa melihat wajahnya. Tidak! Kertas-kertas soalku jatuh dan aku harus membereskannya. Segera. Hap! Kecewa. Begitu aku bangun kembali sosok itu sudah hilang dari depanku. Cepat, kulirik pintu dan ia masih di sana, mengobrol dengan Kakak.
Kubereskan semua, siap menuju ke pintu. Dan mendadak jantungku berdebar cepat. Cepat, seperti dipaksa untuk berdenyut lebih cepat dan cepat. Langkahku semakin cepat tanpa bisa kutahan. Brak! Sukses. Aku sukses menabraknya di pintu. Bukuku jatuh, bukunya jatuh. Besar harapanku, adegan mengambil buku akan dramatik seperti di film-film.
Aku melihat sekilas buku soal latihan UANnya di dekat kakiku. Buku yang tadi aku lihat di meja, yang ia taruh asal di depanku. Aku membungkuk, siap mengambil.
Dan terkejut.
BUKU LATIHAN SOAL UAN SMP.
No comments:
Post a Comment